Oleh: Tim Peliputan Khusus TrustActual.com
MALUKU UTARA
-Tanah Para Sultan dan Pejuang-
Maluku Utara bukan sekadar gugusan pulau rempah yang dikelilingi laut biru. Ia adalah tanah subur yang sejak berabad-abad lalu melahirkan tokoh-tokoh besar, para sultan, ulama, pemimpin perlawanan, dan negarawan yang menyinari Nusantara dengan keberanian, kecerdasan, serta visi kebangsaan.
Hingga tahun 2025, Indonesia resmi menobatkan empat tokoh Maluku Utara sebagai Pahlawan Nasional, yaitu:
- Sultan Baabullah Datu Syah
- Sultan Nuku (Amiruddin Syah)
- H. Salahuddin bin Talabuddin
- Sultan Zainal Abidin Syah
Merekalah empat matahari dari Maluku Utara—empat cahaya yang menerangi perjalanan bangsa melalui perang, persatuan, pendidikan, dan diplomasi.
Sultan Baabullah Datu Syah
(Pahlawan Nasional – Keppres No. 117/TK/2020, ditetapkan 6 November 2020)
Asal: Kesultanan Ternate
Sultan Baabullah adalah simbol keberanian dan kehormatan bangsa. Setelah ayahandanya, Sultan Khairun, dibunuh secara licik oleh Portugis pada 1570, Baabullah bersumpah untuk mengusir penjajah dari tanah Maluku.
Lima tahun kemudian, pada 1575, sumpah itu ditepati. Portugis diusir dari Ternate, menjadikannya tokoh Nusantara pertama yang berhasil mengusir kekuatan Eropa dari wilayah Indonesia.
Sebagai Sultan Ternate ke-7, Baabullah dikenal luas sebagai “Penguasa 72 Pulau.”
Kekuasaannya tidak hanya ditopang oleh kekuatan militer, tetapi juga kemampuan diplomasi yang tajam—menjalin hubungan dengan Inggris, Spanyol, hingga kekuatan Islam dunia.
Baabullah adalah lambang perlawanan yang bermartabat dan diplomasi yang berdaulat.
Sultan Nuku (Muhammad Amiruddin Syah)
(Pahlawan Nasional, Keppres No. 071/TK/1995 – 7 Agustus 1995)
Asal: Kesultanan Tidore
Dua abad setelah Baabullah, bangkit seorang pemimpin besar dari Tidore: Sultan Nuku, pejuang kemerdekaan yang kelak dikenang sebagai Sang Penyatu Timur Nusantara.
Gerakan yang ia pimpin dikenal sebagai Gerakan Nuku – menjadi salah satu perlawanan terbesar terhadap kolonial Belanda. Ia berhasil menghimpun kekuatan rakyat Seram, Raja Ampat, hingga Papua, menjadikannya pemimpin dengan basis dukungan luas di kawasan timur.
Selain pejuang, Nuku juga seorang diplomat cerdas.
Ia menjalin aliansi dengan Inggris dan pada 1801 berhasil merebut kembali kedaulatan Kesultanan Tidore.
Ia dikenang bukan karena mengejar tahta, tetapi karena memperjuangkan martabat rakyatnya.
Semangatnya dirangkum dalam satu makna:
“Kebebasan adalah hak negeri sendiri, bukan pemberian orang luar.”
H. Salahuddin bin Talabuddin
(Pahlawan Nasional – Keppres No. 96/TK/2022, ditetapkan 3 November 2022)
Asal: Halmahera Tengah
Jika Baabullah dan Nuku bertempur dengan senjata dan strategi, maka H. Salahuddin bin Talabuddin berjuang melalui ilmu, moral, dan dakwah.
Tokoh besar Halmahera ini dikenal sebagai ulama, pendidik, serta pejuang kebangsaan yang aktif membangkitkan kesadaran masyarakat di masa penjajahan. Ia menanamkan nilai-nilai Islam, persaudaraan, dan cinta tanah air kepada generasi muda.
Perjuangannya berlangsung hingga era awal kemerdekaan, menjadikannya sosok penting dalam membangun pondasi pendidikan dan persatuan di Maluku Utara.
Pengakuan sebagai Pahlawan Nasional pada 2022 menegaskan bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan dengan pedang—kadang justru dengan pena, ilmu, dan keteladanan.
Sultan Zainal Abidin Syah (Alting Syah)
(Pahlawan Nasional – Keppres No. 116/TK/2025, ditetapkan 6 November 2025)
Asal: Kesultanan Tidore
Sultan Zainal Abidin Syah adalah pemimpin transisi sejarah, tokoh yang menghubungkan dua era: masa kesultanan dan masa Republik Indonesia.
Ia menjabat sebagai Sultan Tidore sejak 1947, sekaligus dikenal luas sebagai Gubernur Irian Barat (Papua) tahun 1956–1961 yang berkedudukan di Soa-Sio Tidore. Perannya sangat penting dalam menjaga stabilitas politik dan mendukung integrasi wilayah timur ke dalam NKRI.
Dengan diplomasi yang halus dan jiwa kepemimpinan yang tenang, Sultan Zainal Abidin Syah menegaskan bahwa tradisi lokal dan negara modern dapat berjalan dalam harmoni.
Ia adalah simbol negarawan yang bekerja tidak dengan senjata, tetapi dengan kebijaksanaan dan kecerdasan.
Empat Cahaya dari Timur Nusantara
Empat tokoh ini menggambarkan evolusi perjuangan Maluku Utara sepanjang empat abad sejarah bangsa:
Abad Tokoh Bentuk Perjuangan
- Abad ke-16 Sultan Baabullah (Ternate) Perlawanan bersenjata mengusir Portugis
- Abad ke-18 Sultan Nuku (Tidore) Gerakan persatuan & diplomasi anti-Belanda
- Abad ke-20 H. Salahuddin bin Talabuddin (Halmahera) Perjuangan moral, pendidikan & dakwah
- Abad ke-20–21 Sultan Zainal Abidin Syah (Tidore) Diplomasi & integrasi ke NKRI
Keempatnya adalah warisan moral bangsa, lambang keberanian, kebijaksanaan, iman, dan persatuan.
Penutup: Cahaya yang Tak Pernah Padam
Dari Benteng Kastela di Ternate, dari Soasio di Tidore, hingga pesisir Halmahera, Maluku Utara telah menulis bab penting dalam sejarah kebangsaan.
- Perjuangan empat pahlawan ini mengajarkan bahwa:
- keberanian bisa mengusir penjajah,
- persatuan dapat merebut kembali martabat
- pendidikan membentuk karakter bangsa
- diplomasi menjaga keutuhan negara.
Kini, tugas generasi muda Maluku Utara adalah melanjutkan cahaya itu, membangun negeri, menegakkan keadilan, dan menjaga kehormatan tanah kelahiran.
Karena pahlawan sejati bukan hanya mereka yang gugur di medan perang, tetapi juga mereka yang hidup untuk terus memperjuangkan kebenaran.
Penulis : Kontributor Trustactual.com








Tinggalkan Balasan