JAKARTA, Trustactual.com — Zulkifli Makatita, warga Maluku Utara yang berdomisili di Jakarta, penggiat media sosial sekaligus pembaca aktif media nasional, menyampaikan pesan terbuka kepada masyarakat dan media lokal agar waspada terhadap framing pemberitaan detik.com yang dinilai mulai membangun persepsi negatif terhadap Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda.

Pesan tersebut disampaikan menyusul maraknya pemberitaan detik.com yang menonjolkan narasi “garasi miliaran” dan label “gubernur terkaya”, yang dinilai lebih menekankan sensasi dibandingkan penyajian fakta secara utuh, proporsional, dan edukatif.

 

“Sebagai masyarakat Maluku Utara di perantauan dan pembaca aktif media nasional, saya merasa perlu mengingatkan bahwa framing detik.com sangat berpengaruh terhadap persepsi publik. Masyarakat harus cerdas membaca berita, tidak cukup hanya membaca judul, tetapi juga memahami konteks dan substansi secara menyeluruh,” ujar Zulkifli, Kamis (19/2/2026) Berdasarkan Rilis diterima Redaksi.

Framing detik.com: Sensasi “Garasi Miliaran” vs Fakta LHKPN Terbuka

Zulkifli menilai narasi “gubernur terkaya” yang terus diangkat detik.com berpotensi membangun stigma sosial secara sistematis, seolah-olah kekayaan identik dengan persoalan hukum.

Padahal, seluruh data yang digunakan bersumber dari Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), dokumen resmi negara yang justru menjadi instrumen transparansi, kontrol publik, dan pencegahan korupsi.

“Pelaporan LHKPN itu kewajiban hukum, bukan aib. Ketika seorang gubernur melaporkan seluruh hartanya secara terbuka, hal itu menunjukkan kejujuran, kepatuhan hukum, dan komitmen terhadap akuntabilitas publik. Namun oleh detik.com, fakta ini justru dipelintir menjadi sensasi ‘garasi miliaran’,” tegasnya.

Ia menambahkan, mayoritas aset yang diberitakan berstatus warisan dan seluruhnya telah dilaporkan secara resmi kepada negara, tanpa adanya temuan pelanggaran hukum, penyelidikan, ataupun indikasi tindak pidana korupsi.

“Ini bukan kasus korupsi, ini murni framing sensasional. Ketika media lebih sibuk menghitung jumlah kendaraan daripada menilai kinerja, di situlah objektivitas jurnalistik mulai memudar,” katanya.

Pergeseran Fokus: Dari Kinerja ke Sensasi Media

Zulkifli juga mengkritik pergeseran orientasi pemberitaan detik.com, dari yang seharusnya menilai:

  • Kinerja pemerintahan daerah
  • Program pembangunan
  • Pelayanan publik
  • Reformasi birokrasi
  • menjadi lebih menonjolkan:
  • Jumlah kendaraan
  • Isi garasi
  • Nilai aset pribadi

“Jika media sebesar detik.com lebih tertarik mengeksploitasi sisi sensasional ketimbang mengulas capaian pembangunan, maka yang terjadi bukan lagi jurnalisme kepentingan publik, melainkan hiburan politik berkedok berita,” ujarnya.

Ajakan kepada Media Lokal: Jangan Ikut Arus Framing

Zulkifli menyerukan agar media lokal Maluku Utara tidak menjadi perpanjangan framing media nasional, melainkan tampil sebagai benteng klarifikasi dan rasionalitas publik.

“Media lokal harus berdiri di garis depan menjaga keseimbangan informasi. Jangan ikut terseret framing nasional yang tidak utuh. Tugas media daerah adalah menjaga akal sehat publik,” tegasnya.

Imbauan kepada Masyarakat: Tetap Rasional dan Objektif

Kepada masyarakat Maluku Utara, Zulkifli mengimbau agar tidak terpancing provokasi framing media, tetap menjaga persatuan, serta fokus mengawal pembangunan daerah.

“Jangan biarkan framing media memecah konsentrasi kita. Kritik silakan, pengawasan wajib, tetapi harus objektif dan berbasis data. Jangan sampai kita diadu domba oleh sensasi,” pungkasnya.

Kesimpulan

Pemberitaan dengan narasi “garasi miliaran” dinilai lebih berorientasi pada sensasi ketimbang edukasi, berpotensi membangun stigma, serta menggeser fokus publik dari substansi kinerja menuju eksploitasi aset pribadi. Transparansi semestinya dirawat sebagai bagian dari akuntabilitas publik, bukan dipersepsikan secara keliru.

 

Redaksi : Trustactual.com