namamu jalan pulang yang tak ku kenal lagi,

aku mencari jiwaku di sepanjang sungai tanpa muara

dan asmaMu menuntunku menyelami samudera yang tak berpalung.

 

duhai, siapa gerangan yang melenakanku,

lalu pergi melepas arumi dari sandaran kalbu

sementara pena menghantui bayangan sendiri.

Yaa Al-Wadudd.

lambat laun ia pun sirna dari pandangan

dan Kau sisipkan fuad

untuk menyadari

bahwa Kau masih disisiku.

 

sungguh aku bertelanjang kaki

memasuki rumah yang terbakar

dan dari pintu-pintunya

bertuliskan, ada cinta yang masih utuh.

-R-