“Puisi untuk tanah yang terus mengingat luka”
Di Bacan, tanah masih menyimpan jejak,
langkah leluhur yang tak pernah retak.
Namun kini sunyi tak lagi sakral,
dibelah mesin, dibungkam kapital.
Hutan-hutan yang dahulu berdoa dalam hijau,
kini tinggal bayang di antara debu dan pilu.
Akar-akar tercerabut dari tubuh bumi,
seperti janji yang mati sebelum ditepati.
Wahai korporasi, dengan jas dan kuasa,
kau datang membawa peta dan angka.
Mengukur tanah dengan dingin logika,
tanpa pernah membaca luka yang nyata.
Sungai bukan lagi cermin langit,
melainkan luka yang mengalir pahit.
Racun-racun merayap tanpa suara,
mengendap di dada, di darah, di udara.
Di kampung-kampung yang tak masuk laporan,
jerit tak pernah menjadi bagian paparan.
Karena bagi mereka ini hanya proyek,
bagi kami ini hidup yang koyak.
Bacan bukan sekadar titik di peta,
ia tubuh yang bernapas dan merasa.
Yang menangis saat tanahnya digali,
yang marah ketika haknya diingkari.
Namun dengarlah, di balik diam yang panjang,
ada amarah yang sedang ditenun tenang.
Suara yang mungkin tak kau hitung hari ini,
akan menjelma gelombang esok pagi.
Bacan tak akan terus tunduk dan diam,
sebab bumi punya cara membalas kejam.
Dan bila keadilan tak kau beri ruang,
rakyat akan menuliskannya dengan terang.
Ini bukan sekadar puisi atau suara,
ini peringatan dari tanah yang terluka.
Bahwa Bacan akan tetap berdiri,
meski harus melawan sampai nadi terakhir.
—
✍️ Karya: Achul Kuylo
📚 Program: Sabtu Literasi TrustActual
🌐 Dipublikasikan oleh: TrustActual.com








Tinggalkan Balasan