Trustactual.com – Di atas sampan tua yang digerogoti usia, Nyilon Papa menolak runtuh meski gelombang hidup menghantam tanpa jeda. Di permukaan laut yang kadang teduh, kadang muram, ia menurunkan nyilon dengan keteguhan yang diwariskan para leluhur—gerak pelan namun pasti, serupa doa yang mengalir sebagai aksara mutiara: sunyi, namun menerangi tanpa henti.
Laut tak lagi sepenuhnya bersahabat. Gelombang, angin, dan hujan kerap menghantam dada kurusnya. Namun semangat Papa tak pernah berkemas dari arena kehidupan. Spirit itu membara seperti bara api yang enggan padam, meski terus diterpa badai.
Ketimpangan yang Membelit Nyilon Papa
Semangat Papa selalu tumbuh, ironisnya kerap patah oleh kenyataan harga yang jatuh drastis. Di pasar, nilai ikan melambung, tetapi di tangan tengkulak harga menjadi sangat murah. Ketimpangan ini menekan nelayan kecil yang tak memiliki akses pasar yang layak.
Penurunan harga ikan diperparah oleh naiknya tarif PHP untuk ikan tuna di Morotai, dari Rp1.500 menjadi Rp4.000 per kilogram. Lonjakan ini berpotensi menutup ruang pasar nelayan lokal.
Harga ikan yang tak menentu membuat keresahan merebak. Nilai jual yang berbeda antara nelayan kecil dan besar menciptakan luka struktural yang kian dalam.
Akses tol laut pun menjadi faktor penting yang ikut mendorong keterpurukan. Sejak 2018 hingga 2025, jadwal kapal yang semula dua kali sebulan kini tinggal sekali. Padahal kapal tersebut merupakan penghubung vital agar hasil tangkapan bisa memperoleh harga yang layak (RadarTimur.id, 26/8/2025).
Ironisnya, jadwal yang terbatas memaksa nelayan berdesakan, bahkan kerap kehilangan kesempatan mengangkut hasil tangkapan mereka.
Di sisi lain, kenaikan harga BBM jenis solar datang seperti badai yang menghantam sampan kecil Papa. Solar, nadi kehidupan mesin perahu—kini menjadi barang langka yang harus diburu tanpa kepastian.
Di Kabupaten Pulau Morotai, harga Pertamax mencapai Rp15.000 per liter, sementara Pertalite bersubsidi Rp13.000 per liter (TeropongMalut.com, 1/8/2025).
Padahal Perpres Nomor 117 Tahun 2021 mengatur keseimbangan antara kebutuhan masyarakat, termasuk nelayan, dengan komitmen lingkungan. Namun realitas di lapangan menunjukkan kesenjangan yang mencolok. Biaya melaut membengkak, sementara hasil tak menentu. Setiap tetes solar yang masuk ke tangki adalah taruhan: pulang membawa harapan atau kehampaan.
Perjuangan Papa dari Laut
Perlawanan Nyilon Papa bukanlah teriakan di jalanan atau poster di depan kantor pemerintahan. Ia menurunkan nyilon ke laut, itulah deklarasi perlawanan yang paling jujur dan asri.
Perahu kecil yang mulai lapuk menjadi saksi bisu pertarungan panjang. Di tengah samudra luas, tangan gemetar Papa menggenggam nyilon sembari melantunkan doa kepada Tuhan, laut, dan angin, agar perjuangan kelak berbuah cukup untuk keluarga.
Ketangguhan Papa bukan semata mengejar rupiah, tetapi demi harapan, cinta, dan kasih sayang bagi mereka yang menanti di rumah. Meski keinginan itu sering diremukkan oleh pengeluaran yang kian membengkak, Papa tetap berdiri kokoh menghadapi ombak.
Sebab bagi Papa, menyerah bukan pilihan. Laut memang selalu menguji, namun juga memberi, meski tak seberapa.
Dan nyilon Papa tak seharusnya berhenti di tepian. Ia harus terus berlayar ke lautan luas demi cita-cita anak-anaknya dan sosok perempuan hebat yang setia menunggu di rumah.
Penulis : Kawan Arben (Kamerad Gamhas Sektor Unipas)
Redaksi : Raf – Trustactual.com








Tinggalkan Balasan