HALSEL, TrustActual.com – Barisan Rakyat Halmahera Selatan (BARAH) melalui Ketua Umum Ady Hi Adam, melontarkan kritik keras terhadap pelaksanaan Program Agromaritim Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan yang dinilai tidak lebih dari sekadar slogan tanpa implementasi konkret di lapangan.

Ady Hi Adam menyatakan, hingga kini program yang digadang sebagai penggerak ekonomi berbasis pertanian dan kelautan itu belum menunjukkan indikator keberhasilan yang jelas. Bahkan, menurut Ady Program Agromaritim lebih tampak sebagai hiasan narasi di warung makan dan toko rokok di kawasan Labuha dan Babang, ketimbang menjadi kebijakan yang benar-benar menyentuh petani dan nelayan.

“Dinas Pertanian dan Dinas Perikanan sebagai dinas teknis justru gagal menghadirkan terobosan. Tidak ada produk unggulan pertanian yang bisa ditunjuk sebagai wajah dari program agro di Halsel,” tegas Ketua BARAH.

Selain itu Tambahnya, BARAH menyoroti lemahnya dukungan pemerintah terhadap sektor pertanian. Hingga kini, pemerintah daerah belum menyediakan market resmi untuk pemasaran hasil pertanian. Petani Halsel masih harus berjuang sendiri memasarkan produknya secara tradisional, tanpa fasilitas produksi memadai, tanpa teknologi pertanian modern, dan dengan pengolahan lahan yang masih dilakukan secara manual.

Lebih ironis lagi, Dinas Pertanian disebut tidak memiliki data yang jelas mengenai produk pertanian apa yang menjadi andalan daerah, sehingga program agromaritim kehilangan arah strategis.

“Tanpa data, tanpa arah, dan tanpa dukungan alat produksi, bagaimana mungkin program ini bisa sukses?” kritiknya

Di sektor kelautan, BARAH menilai klaim keberhasilan pemerintah daerah melalui pengadaan bodi Viber (Katinting) atau mesin sebagai kemajuan agromaritim tidak sepenuhnya benar. Program tersebut, menurut mereka, merupakan kelanjutan dari kebijakan pemerintah sebelumnya dan bukan terobosan baru.

Hasil pemantauan tim BARAH di lapangan menunjukkan bahwa sebagian bantuan tersebut bahkan tidak digunakan sebagaimana mestinya. Lebih parah lagi, bantuan tidak dibarengi dengan alat tangkap modern yang seharusnya menjadi esensi dari konsep agromaritim.

Nelayan Halsel juga masih bergantung pada Pelabuhan Panambuang sebagai pusat pemasaran ikan, sementara fasilitas penyimpanan seperti cold storage dan sistem Cold Chain Management belum tersedia secara memadai di berbagai zona maritim yang telah ditetapkan pemerintah.

BARAH menilai pemerintah gagal menerjemahkan konsep pembangunan terintegrasi yang menyatukan sektor pertanian dan kelautan dalam satu ekosistem ekonomi, sosial, dan ekologi. Hingga kini belum ada pelabuhan terintegrasi yang mampu menampung, mengolah, dan mendistribusikan hasil produk agro-maritim secara sistematis.

“Peran OPD sangat lemah dalam mendorong keberhasilan program ini. Pemerintah seharusnya membangun pelabuhan produksi dan sistem irigasi sebagai tulang punggung sektor pertanian dan perikanan,” ujar Ketua

Selain infrastruktur, BARAH menyoroti persoalan klasik yang terus menghantui petani dan nelayan: akses modal. Minimnya dukungan pembiayaan membuat produksi sulit berkembang. Pemerintah dinilai belum menghadirkan regulasi yang benar-benar memudahkan petani dan nelayan memperoleh akses permodalan yang layak.

“Selama negara tidak hadir dalam pembiayaan, infrastruktur, dan pasar, Program Agromaritim akan terus jauh dari harapan,” tutup Ady Hi Adam, Ketua Umum Barisan Rakyat Halmahera Selatan.

 

Sumber : Barah

Redaksi : Raf – Trustactual.com