Halsel, Trustactual.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dinilai semakin menekan kondisi ekonomi masyarakat di Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Maluku Utara.
Sorotan tersebut disampaikan oleh aktivis muda Halmahera Selatan, Julkifli Sangaji, pada Jumat (12/6/2026) di Labuha.
Menurut Julkifli, berdasarkan data kurs tengah Bank Indonesia, nilai tukar rupiah tercatat berada di angka Rp17.971 per dolar Amerika Serikat pada Jumat dini hari. Di sisi lain, harga Pertamax yang dipasarkan di SPBU wilayah Maluku Utara mencapai Rp16.650 per liter.
“Rp17.971 per dolar itu dampaknya berantai. Pertamax Rp16.650 per liter beda jauh dengan Pertalite Rp10.000. Warga Halsel yang motornya tidak bisa menggunakan Pertalite, mau tidak mau harus mengisi Pertamax dengan harga Rp16.650 per liter,” ujar Julkifli.
Ia menilai selisih harga yang cukup besar antara BBM subsidi dan nonsubsidi berpotensi meningkatkan pengeluaran masyarakat, khususnya pengguna kendaraan yang direkomendasikan menggunakan bahan bakar beroktan lebih tinggi.
Berdasarkan harga resmi yang berlaku sejak 1 Juni 2026, Pertalite masih dibanderol Rp10.000 per liter, sementara Bio Solar berada pada harga Rp6.800 per liter. Dengan demikian, terdapat selisih sekitar Rp6.650 per liter antara Pertalite dan Pertamax.
Julkifli menjelaskan bahwa dampak pelemahan rupiah dirasakan lebih berat di Halmahera Selatan karena karakteristik wilayah yang terdiri dari banyak pulau dan bergantung pada transportasi laut.
Menurutnya, berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari suku cadang kapal, mesin tempel, pupuk, hingga bahan pangan, sangat dipengaruhi oleh biaya distribusi dan harga barang yang berkaitan dengan kurs dolar.
“Kondisi Halsel yang wilayahnya didominasi laut membuat efek pelemahan rupiah terasa berlipat. Onderdil kapal, mesin tempel, pupuk, beras, semuanya terdampak. Ketika dolar naik, biaya ikut naik dan pada akhirnya dibebankan kepada masyarakat,” katanya.
Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah, Bank Indonesia diketahui telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan tekanan ekonomi.
Sepanjang Mei 2026, rupiah tercatat mengalami pelemahan sebesar 3,82 persen. Kondisi tersebut menjadi perhatian berbagai kalangan karena berpotensi memengaruhi harga barang dan jasa, terutama di daerah kepulauan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap distribusi laut dan energi.
Penulis: Redaksi TrustActual.com
Sumber: Keterangan Julkifli Sangaji dan data ekonomi yang disampaikan kepada media.








Tinggalkan Balasan