MAKASSAR, Trustactual.com – Di sebuah kamar kos sederhana di belakang Universitas Hasanuddin (Unhas), harapan seorang remaja asal Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, terus bergantung pada doa dan kepastian jadwal operasi. Andri Armain (15) harus meninggalkan kampung halamannya demi memperjuangkan kesempatan untuk sembuh dari penyakit yang dideritanya.

Perjalanan Andri menuju Makassar bukanlah perjalanan biasa. Di usianya yang masih belia, ia harus menjalani hari-hari dengan pemeriksaan medis, rasa sakit, dan ketidakpastian kapan tindakan operasi dapat dilakukan.

Berdasarkan dokumen rujukan BPJS Kesehatan, Andri sebelumnya menjalani pemeriksaan di UPTD RSUD Dr. H. Chasan Boesoirie, Maluku Utara. Pada 19 Mei 2026, ia dirujuk ke RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar setelah didiagnosis malignant neoplasm of nasopharynx (ICD-10 C11.9), karena memerlukan penanganan yang tidak tersedia di rumah sakit daerah.

Menurut informasi yang diperoleh media ini, Andri sebenarnya pernah menjalani operasi pada Mei 2025. Namun, beberapa bulan kemudian kondisinya kembali memburuk hingga dokter menyarankan penanganan lanjutan di Makassar.

Meski telah berada di rumah sakit rujukan, perjuangan Andri belum berakhir. Keluarga mengatakan operasi belum dapat dilakukan karena pasien masih harus menjalani berbagai tahapan pemeriksaan dan persiapan medis.

Berdasarkan penjelasan yang diterima keluarga dari tim dokter, hasil CT Scan menunjukkan adanya benjolan pada rongga hidung bagian kanan, sementara bagian kiri mengalami penyempitan akibat massa yang berkembang. Benjolan tersebut juga disebut telah mencapai bagian tenggorokan dan posisinya mendekati area otak.

Menurut keluarga, dokter menjelaskan bahwa kondisi Andri harus terlebih dahulu distabilkan, termasuk memperbaiki status gizinya, sebelum operasi dapat dipertimbangkan.

“Dokter menyampaikan kondisi Andri harus lebih stabil dulu. Benjolannya juga harus diperkecil sebelum bisa dilakukan operasi,” ujar pihak keluarga kepada media ini.

Cobaan belum berhenti di situ. Pada Jumat (3/7/2026) dan Sebelum juga keluarga mengaku kondisi Andri sempat menurun drastis. Ia mengalami lemas (drop) disertai perdarahan dari hidung dan mulut. Momen itu menjadi saat yang sangat mengkhawatirkan bagi keluarga yang setiap hari menanti kabar baik dari tim medis.

Sementara itu, persoalan ekonomi kini menjadi beban lain yang harus mereka hadapi. Sudah lebih dari satu bulan keluarga mendampingi Andri di Makassar. Mereka tinggal di sebuah rumah kos sederhana sambil menunggu jadwal operasi.

Dana bantuan akomodasi sebesar Rp5 juta yang diterima dari Dinas Sosial Provinsi Maluku Utara, menurut keluarga, telah habis digunakan untuk biaya tempat tinggal, makan, dan kebutuhan sehari-hari selama menjalani pengobatan.

“Sudah hampir lima hari kami belum bisa membayar biaya kos. Satu langkah lebih kami di kosan lain lantaran tidak bisa membayar kami pindah dan nekat tunggak. Bantuan akomodasi sudah habis, sementara kami masih harus menunggu jadwal operasi. Kami sangat berharap ada bantuan agar bisa tetap mendampingi Andri sampai pengobatannya selesai,” tutur keluarga.

Keluarga mengaku hingga kini belum menerima bantuan lanjutan untuk memenuhi kebutuhan hidup selama berada di Makassar. Mereka berharap adanya perhatian dari Pemerintah Desa, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, Pemerintah Provinsi Maluku Utara, lembaga sosial, maupun masyarakat yang memiliki kepedulian agar dapat membantu meringankan beban yang mereka hadapi.

Menurut keluarga, hingga berita ini diterbitkan belum ada tanggapan ataupun bantuan lanjutan yang mereka terima dari pemerintah desa maupun pemerintah daerah terkait kebutuhan hidup selama proses pendampingan Andri di Makassar. Mereka berharap ada langkah nyata sehingga perjuangan Andri tidak hanya menjadi beban keluarga semata.

Di tengah perjuangan itu, Andri hanya bisa bertahan, mengikuti setiap pemeriksaan yang dijadwalkan dokter, dan berharap kondisinya segera membaik agar operasi dapat dilakukan.

Bagi keluarga, setiap hari yang berlalu adalah penantian. Penantian akan kabar bahwa kondisi Andri telah cukup stabil untuk menjalani operasi, sekaligus harapan agar mereka mampu bertahan secara ekonomi hingga proses pengobatan selesai.

Perjuangan Andri menjadi potret nyata bahwa bagi sebagian masyarakat di daerah kepulauan, perjuangan melawan penyakit bukan hanya soal menghadapi kondisi medis, tetapi juga tentang bertahan dari keterbatasan ekonomi ketika harus menjalani pengobatan jauh dari kampung halaman. Di balik penantian operasi itu, keluarga berharap uluran tangan dan kepedulian segera hadir, agar Andri dapat terus berjuang menuju kesembuhan tanpa harus dibayangi kesulitan biaya hidup.

 

Redaksi: Raf Trustactual.com