Oleh: Dwi Hartanto

Trustactual.com, –– Kamis sore, 29 Agustus 2019, pesawat yang saya tumpangi akhirnya menyentuh landasan Bandara Sultan Oesman Sadik di Pulau Bacan. Perjalanan dari Jakarta tidak pernah langsung; saya harus singgah di Ternate sebelum menempuh penerbangan singkat menuju Labuha. Cuaca sore itu tenang, langit bersih, dan pesawat mendarat tanpa hambatan. Pulau kecil di Maluku Utara ini menyimpan kisah sejarah yang jarang disentuh—kisah yang menautkan jejak seorang tokoh besar pers bumiputera dengan seorang putri dari tanah Bacan.

Nama Tirto Adhi Soerjo kembali menjadi sorotan setelah film Bumi Manusia diputar di layar-layar bioskop. Sosok Annelies Mellema yang menjadi magnet cerita memang memikat perhatian banyak orang, namun kedatangan saya ke Bacan bukan untuk mencari jejak tokoh fiksi, melainkan menelusuri kisah perempuan nyata yang hidup bersama Tirto: Prinses Fatimah, atau Boki Fatimah, putri Sultan Bacan dan figur yang turut mengisi halaman-halaman sejarah pergerakan nasional.

Ketika Sejarah Menautkan Bacan dan Tirto

Tirto Adhi Soerjo

Dalam Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, kisah Minke—nama yang dilekatkan pada Tirto—dipadukan dengan sosok Prinses van Kasiruta, perempuan Bacan yang kemudian dinikahinya pada tahun 1905. Dari Bacan inilah Tirto menyerap banyak pengalaman yang kelak menguatkan tekadnya untuk menerbitkan Medan Prijaji pada 1907, sebuah surat kabar yang menjadi tonggak kesadaran kaum bumiputera.

Pram mencatat bahwa Oesman Sjah, kakak Fatimah yang naik takhta sebagai Sultan Bacan, ikut menopang penerbitan Medan Prijaji. Fatimah sendiri, perempuan yang terdidik dalam bahasa Melayu dan Belanda, turut terlibat dalam proses redaksi. Ketika Tirto menerbitkan Poetri Hindia pada 1908, namanya kembali hadir sebagai bagian dari barisan perempuan terpelajar yang mendorong lahirnya gagasan-gagasan baru pada masa awal pergerakan nasional.

Ziarah ke Makam Boki Fatimah

Pada 30 Agustus 2019, saya menunaikan salat Jumat di Masjid Kesultanan Bacan, bangunan bercorak kolonial yang berdiri anggun dengan pilar besar dan ukiran logam berwarna keemasan di mimbar. Usai ibadah, saya berbincang dengan sejumlah pemuda Gema Suba dan seorang dosen setempat, Husni. Dari merekalah saya mendengar bahwa makam Boki Fatimah berada di sebuah bukit sunyi di pinggiran kota.

Sore hari, mereka mengajak saya menuju lokasi. Kami melintasi kampung-kampung, melewati sungai tempat perahu nelayan bersandar, kemudian menaiki bukit dengan tebing curam. Yang saya temui jauh dari bayangan tentang pemakaman keluarga bangsawan: area sunyi dengan makam-makam yang sebagian telah rusak, dikelilingi semak dan pohon liar.

Di salah satu sudut bukit itu, berdiri sebuah nisan sederhana dengan cat biru muda dan hitam bertuliskan:

“Makam Almarhumah Boki Fatimah (Prinses Kasiruta) binti Sultan Muhammad Oesman Sadik.”

Tak tertera tanggal lahir atau wafat. Di balik sederhananya nisan ini, tersimpan kisah seorang perempuan bangsawan Bacan yang menjadi saksi dan pelaku sejarah pada masa awal abad ke-20—sebuah ironi yang menyentuh hati.

Ingatan yang Mulai Padam

Pemuda-pemuda Bacan bercerita bahwa sejarah tentang Boki Fatimah masih simpang siur, bahkan di tanah kelahirannya sendiri. “Kami justru mengetahui sebagian besar dari tulisan-tulisan Pramoedya,” kata mereka. Upaya meminta pemerintah daerah merenovasi makam itu sejauh ini belum berbuah hasil.

Dalam perjalanan pulang menjelang senja, mereka menyampaikan kisah yang jarang didengar: bahwa Boki Fatimah disebut-sebut pulang dari Jawa dalam kondisi mengandung. Putranya kemudian dibesarkan di Labuha dan dikenal dengan marga Iskandar Alam, keturunan yang diyakini masih ada hingga kini.

Kesetiaan Sang Putri Bacan

Sejarah mencatat Tirto dua kali diasingkan karena kritik tajamnya terhadap kolonialisme, hingga wafat dalam keadaan miskin pada 1918 di Betawi. Fatimah, meski hidup di masa yang tidak memberi ruang luas bagi perempuan untuk berperan dalam ruang publik, tetap menjanda sampai akhir hayatnya. Ia tak pernah menikah lagi.

Pada tahun 2006, pemerintah menetapkan Tirto sebagai pahlawan nasional. Namun nama Boki Fatimah, perempuan yang pernah berdiri di sampingnya, nyaris tenggelam dalam ingatan bangsa. Padahal dalam karya Jejak Langkah, Pram melukiskan sosoknya sebagai perempuan perkasa: cerdas, terampil menunggang kuda, dan tak gentar mencabut pistol demi melindungi suaminya dari tekanan kekuasaan kolonial.

Ziarah di Bacan mengingatkan saya bahwa sejarah sering kali menyisakan ruang kosong—fragmen-fragmen yang luput, terlupakan, atau sengaja dihilangkan. Boki Fatimah adalah salah satunya: perempuan dari Pulau Kasiruta yang jejaknya merentang dari istana Bacan hingga gelanggang pergerakan nasional.

Dwi Hartanto – Pemerhati sejarah, budaya, dan penulis lepas.

Tulisan telah dimuat di Tirto.id dengan judul: Menelusuri Jejak Prinses Fatimah, Istri Tirto Adhi Soerjo.

Sumber : Seluruh Perempuan