TrustActual.com — Air permukaan kini menjadi sumber daya paling rentan di wilayah operasi industri tambang besar. Sungai, danau, hingga mata air yang dulu menjadi sumber kehidupan masyarakat perlahan berubah menjadi suplai operasi tambang: mencuci ore, memproses mineral, menggerakkan mesin, hingga mengendalikan debu. Namun semakin banyak kajian ilmiah dan laporan investigatif menunjukkan bahwa penggunaan air permukaan oleh perusahaan tambang meninggalkan jejak tekanan ekologis, sosial, dan kesehatan yang tidak bisa lagi diabaikan.

Artikel ini merangkum temuan investigatif dari berbagai daerah di Indonesia dan studi internasional, sekaligus mengungkap pola umum yang dapat menjadi peringatan bagi wilayah-wilayah dengan aktivitas industri serupa.

Ledakan Kebutuhan Air di Sektor Tambang

Industri pertambangan, khususnya nikel, emas, dan batu bara, membutuhkan air dalam volume sangat besar. Konsumsi air permukaan mencapai ratusan ribu hingga jutaan megaliter per tahun, tergantung kapasitas produksi.

Menurut Journal of Cleaner Production (2020), smelter nikel dapat meningkatkan konsumsi air hingga 25% per tahun setelah beroperasi penuh. Ini menjadikan air permukaan sebagai komoditas yang diburu tanpa henti.

Studi Kasus: Ketika Air Permukaan Tidak Lagi Mengalir di Tempatnya

1. Sulawesi Tenggara — Sungai Menyusut, Pertanian Tersendat

Penelitian oleh Universitas Cenderawasih (2023) menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan nikel di Konawe Selatan menyebabkan:

  • Penurunan debit air irigasi hingga 40% pada musim kemarau
  • Pendangkalan bendungan akibat sedimentasi dari lahan tambang
  • Kualitas air irigasi menurun tajam karena peningkatan lumpur dan limbah pengerukan

Sumber:

• “Analisis Dampak Aktivitas Pertambangan Nikel terhadap Pendapatan Petani Padi Sawah” — Universitas Cenderawasih, 2023

• ejournal.uncen.ac.id

Studi lanjutan oleh Badan Litbang Pertanian (2025) mengonfirmasi bahwa degradasi lingkungan akibat aktivitas tambang di wilayah tersebut berdampak langsung pada menurunnya produksi pertanian dan ketersediaan air.

Sumber:

• epublikasi.pertanian.go.id (2025)

2. Maluku Utara — Pencemaran Logam Berat di Perairan Pesisir

Investigasi Nexus3 Foundation dan universitas mitra (2024) menemukan:

  • 47% sampel darah warga di kawasan industri nikel pesisir mengandung merkuri melebihi ambang aman
  • 32% warga terpapar arsen, logam berbahaya yang berkaitan dengan penyakit kronis
  • Sampel ikan dari perairan pesisir mengandung logam berat dalam konsentrasi berbahaya

Sumber:

• Kompas.id — “Logam Berat Ditemukan pada Ikan dan Darah Penduduk” (2024)

Temuan serupa dicatat oleh Climate Rights International (CRI) dalam laporan 2025 yang menyebutkan bahwa sungai dan perairan pesisir di kawasan industri nikel menunjukkan:

  • sedimentasi berat,
  • perubahan warna air,
  • peningkatan kandungan logam,
  • penurunan keanekaragaman hayati.

Sumber:

• CRI (2025) — “Ongoing Harms, Limited Accountability”

3. Kalimantan Timur — Air Sungai Tersedot Ratusan Ribu Megaliter

Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan Timur (2022) mencatat dua perusahaan tambang besar mengambil lebih dari:

800.000 ML per tahun dari sungai utama.

Dampaknya:

  • pendangkalan cepat di beberapa anak sungai,
  • berkurangnya pasokan air baku PDAM,
  • meningkatnya TSS (Total Suspended Solids) hingga 300 mg/L, jauh di atas ambang baku mutu.

Sumber:

• Laporan BWS Kaltim 2022 (publik)

Dampak Sistemik: Dari Sungai hingga Keadaan Sosial Warga

Dari berbagai temuan, polanya sama:

1. Debit Sungai Turun Secara Signifikan

Di banyak lokasi operasi tambang, debit air permukaan turun 20–40% dalam 5 tahun terakhir.

2. Konflik Air Muncul

Petani kehilangan irigasi, masyarakat kehilangan air bersih, PDAM terpaksa memompa dari sumber yang lebih jauh.

3. Pencemaran Logam Berat

Studi Nexus3 dan CRI menemukan paparan merkuri dan arsen di darah warga, serta logam berat pada ikan konsumsi.

4. Transparansi Rendah

Data volume pengambilan air, hasil uji air, dan pelaporan lingkungan tidak dipublikasikan.

5. AMDAL dan SIPA Tidak Selalu Ditaati

Banyak perusahaan tidak memperbarui izin SIPA dan tidak melaporkan penggunaan air secara berkala.

Sumber Resmi dan Laporan yang Dimuat Untuk menopang laporan investigasi ini, berikut daftar sumber kredibel yang perlu dikonfirmasi:

Penelitian Akademik

1. Universitas Cenderawasih — Dampak Tambang Nikel terhadap Kualitas Air & Pertanian

2. Balitbang Pertanian — Degradasi Ekologis di Sekitar Tambang Nikel (2025)

3. Journal of Cleaner Production — “Water Use in Nickel Smelting” (2020)

Laporan NGO & Independen

1. Nexus3 Foundation — Investigasi Paparan Logam Berat (2024)

2. Climate Rights International — “Ongoing Harms, Limited Accountability” (2025)

Media Nasional

1. Kompas — laporan pencemaran logam berat di perairan industri nikel.

2. The Jakarta Post — dampak deforestasi dan hidrologi akibat tambang nikel

3. Cerah.id — dampak nikel terhadap ekosistem dan masyarakat

Kesimpulan

Dari berbagai daerah di Indonesia, gambaran besar terlihat jelas:

1. Air permukaan menjadi sumber daya yang ditarik besar-besaran oleh industri tambang, melebihi kapasitas alami daerah.

2. Penurunan debit, pencemaran, dan risiko kesehatan adalah konsekuensi langsung dari lemahnya pengawasan.

3. Bukit-bukit yang gundul akibat tambang memicu sedimentasi, mempercepat kerusakan DAS, dan menggeser keseimbangan hidrologi.

4. Minimnya transparansi data membuat masyarakat tidak mengetahui seberapa besar air mereka disedot industri.

5. Laporan ilmiah, investigatif, dan akademik memperlihatkan pola kerusakan yang sama dari timur hingga barat Indonesia.

 

Catatan Redaksi : Trustactual.com menyusun Artikel ini Berdasarkan Data Investigasi berbagai Lembaga Resmi diatas!