Oleh: Aprilyadi Agus, Kabid Advokasi Himpunan Pelajar Mahasiswa Botang Lomang (Hipmabol)

Trustactual.com – alam beberapa tahun terakhir, dunia memasuki fase percepatan teknologi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kehadiran Generative Artificial Intelligence (GenAI) mulai dari model bahasa besar hingga model multimodal yang dapat menghasilkan teks, gambar, suara, dan rekomendasi keputusan telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan membangun interaksi sosial. Namun di balik narasi kemajuan teknologi, terdapat satu ancaman besar yang masih minim perhatian: munculnya kesenjangan kekuasaan berbasis teknologi, sebuah bentuk ketimpangan baru yang potensial jauh lebih dalam daripada kesenjangan ekonomi klasik.

Isu ini belum menjadi arus utama pembahasan global, padahal tanda-tanda ketimpangan tersebut sudah terlihat jelas. GenAI bukan sekadar inovasi; ia merupakan instrumen kekuasaan baru. Ketika akses terhadap teknologi ini tidak merata akibat faktor ekonomi, politik, infrastruktur, maupun budaya, maka terbentuklah struktur ketimpangan yang pelan tapi pasti menggeser posisi manusia dalam tatanan sosial, ekonomi, bahkan identitas budaya.

GenAI sebagai Instrumen Kekuasaan Baru

Sepanjang sejarah, kekuasaan ditentukan oleh siapa yang mengendalikan sumber daya penting: tanah, logam mulia, minyak, dan modal. Di abad ke-21, sumber daya itu berubah menjadi informasi, data, dan komputasi dan GenAI berada pada titik simpang ketiganya.

  • Akses terhadap GenAI bukan sekadar kemampuan memakai aplikasi, tetapi:
  • siapa yang memiliki perangkat keras untuk melatih model,
  • siapa yang menguasai data dalam jumlah besar,
  • siapa yang mampu memanfaatkan output AI dalam skala luas.

Negara-negara maju, dengan infrastruktur riset dan perusahaan teknologi raksasa, dapat mengembangkan model AI canggih dalam hitungan bulan. Sebaliknya, banyak negara berkembang masih bergulat dengan keterbatasan internet stabil, listrik, dan fasilitas komputasi.

Dari ketidakmerataan inilah kekuasaan baru lahir: siapa menguasai AI, menguasai arah masa depan. Mereka yang tidak memiliki akses otomatis tersisih baik individu, masyarakat, maupun negara.

Kesenjangan Akses: Kesenjangan Masa Depan

Jika kesenjangan ekonomi dapat diamati melalui pendapatan atau aset, maka kesenjangan teknologi bersifat jauh lebih halus namun sangat tajam. Contohnya:

  • Individu yang menguasai GenAI dapat bekerja 5–10 kali lebih cepat daripada mereka yang tidak.
  • Perusahaan yang mengintegrasikan AI mampu memangkas biaya besar, sedangkan usaha kecil kian tertinggal.
  • Negara yang memiliki sistem AI sendiri memiliki daya tawar geopolitik lebih kuat.

Dengan kata lain, akses terhadap AI bukan lagi kelebihan, melainkan syarat bertahan hidup dalam ekonomi baru.

Di dunia kerja global, kemampuan menggunakan GenAI kini menjadi kompetensi utama. Mereka yang tidak memiliki akses atau literasi AI berpotensi tersingkir dari pasar kerja modern. Ini bukan lagi “digital divide” seperti dua dekade lalu. Ini adalah kesenjangan masa depan: siapa yang tidak hadir dalam ekosistem GenAI hari ini berpotensi tidak hadir dalam ekonomi, budaya, dan dunia kerja masa depan.

AI dan Ancaman Imperialisme Pengetahuan

Dimensi lain yang sangat jarang dibahas ialah potensi dominasi budaya melalui AI. Sebagian besar model dilatih menggunakan data dari bahasa global dan budaya dominan, yang umumnya berasal dari Barat. Alhasil, AI sering kali mencerminkan perspektif, nilai, dan cara berpikir yang tidak sepenuhnya netral.

Ketika model seperti itu digunakan di berbagai negara, penyebaran ideologi dan pola pikir global terjadi secara halus, tanpa paksaan, tanpa kolonisasi fisik. Ini adalah bentuk imperialisme pengetahuan, di mana algoritma menjadi medium penetrasi budaya.

Bayangkan generasi muda di negara berkembang yang menggunakan GenAI sebagai rujukan utama dalam penulisan, pembelajaran, atau pengambilan keputusan. Tanpa disadari, mereka menyerap cara berpikir yang tidak selalu sesuai dengan konteks lokal. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi mengikis keragaman budaya dan menggantinya dengan standar global tunggal yang didiktekan oleh model AI.

Negara Berkembang di Persimpangan: Peluang dan Ancaman

Indonesia dan negara berkembang lainnya berada dalam posisi kompleks. GenAI menawarkan peluang besar bagi percepatan pembangunan, revolusi pendidikan, transformasi pemerintahan, dan efisiensi industri. Namun keterbatasan infrastruktur digital, akses komputasi besar, riset lokal, dan kebijakan yang matang menjadikan negara berkembang lebih banyak berperan sebagai konsumen, bukan produsen teknologi.

Konsekuensinya:

  • negara bergantung pada model dan sistem buatan pihak luar,
  • data warga tidak sepenuhnya berada dalam kendali negara,
  • ekosistem talenta teknologi lokal berjalan lambat,
  • ketimpangan internal melebar antara kelompok yang melek teknologi dan yang tertinggal.

Jika tidak diantisipasi, negara berkembang akan terjebak dalam struktur ketimpangan global baru yang sulit diperbaiki selama puluhan tahun mendatang.

Ketergantungan Tak Disadari: Ancaman yang Paling Senyap

Satu risiko besar yang masih minim pembahasan adalah ketergantungan kognitif manusia terhadap AI. Ketergantungan ini bukan hanya soal kenyamanan digital, tetapi tentang delegasi pengambilan keputusan kepada sistem yang tidak sepenuhnya dipahami penggunanya.

Generasi baru kini menjadikan AI sebagai sumber jawaban untuk hampir semua hal: cara belajar, memilih karier, memecahkan masalah, bahkan memahami diri. Tanpa literasi kritis, manusia dapat menjadi pasif secara intelektual.

 

Penulis : A_Agus (Kontributor)