(Esai Opini – Refleksi Sosial dan Peradaban)

Trustaktual.com – Perjalanan manusia dari desa menuju kota bukanlah sekadar migrasi ruang hidup, melainkan transformasi ideologis yang menyentuh jantung peradaban. Ia mengubah cara berpikir, cara menilai hidup, dan cara memaknai hubungan antarmanusia. Desa dan kota, dalam konteks ini, bukan hanya wilayah geografis, melainkan dua sistem nilai yang saling berhadap-hadapan: satu berakar pada kebersamaan dan kearifan lokal, yang lain berpijak pada rasionalitas, efisiensi, dan kompetisi modern.

Dalam pandangan filsuf Ferdinand Tonnies, desa merepresentasikan Gemeinschaft, masyarakat berbasis ikatan emosional, tradisi, dan solidaritas. Sementara kota melambangkan Gesellschaft masyarakat yang dibangun atas kontrak sosial, kepentingan individu, dan hubungan fungsional. Peralihan dari desa ke kota, dengan demikian, bukan hanya perpindahan fisik, melainkan transisi ideologis dari dunia nilai komunal menuju logika modern yang individualistik.

Desa membentuk manusia melalui pengalaman kolektif: gotong royong, musyawarah, dan rasa memiliki terhadap ruang hidup bersama. Nilai-nilai ini hidup sebagai kesadaran sosial, bukan sebagai aturan tertulis. Sebagaimana dikemukakan Émile Durkheim, masyarakat desa beroperasi melalui solidaritas mekanik, kesatuan yang tumbuh dari kesamaan nilai dan keyakinan. Di ruang ini, identitas individu menyatu dengan komunitas; keberhasilan seseorang diukur dari kontribusinya bagi kehidupan bersama.

Namun ketika manusia desa memasuki kota, ia memasuki dunia yang beroperasi melalui solidaritas organik: relasi dibangun berdasarkan fungsi, peran, dan kepentingan. Rasionalitas kota, sebagaimana dikritik Max Weber, melahirkan proses “rasionalisasi kehidupan” yang cenderung menyingkirkan nilai emosional dan spiritual. Hidup menjadi semakin terukur, terhitung, dan terorganisasi, tetapi sekaligus kehilangan kehangatan relasi kemanusiaan.

Modernisasi sering dipuja sebagai puncak kemajuan peradaban. Desa lalu dipandang sebagai simbol keterbelakangan. Cara pandang ini melahirkan apa yang dapat disebut sebagai inferioritas ideologis, keyakinan bahwa nilai desa harus ditinggalkan demi menjadi “modern”. Padahal, sebagaimana diingatkan Martin Heidegger, peradaban yang melupakan akar keberadaannya akan terjerumus dalam krisis makna. Kemajuan teknologi tanpa orientasi nilai hanya menghasilkan kekosongan eksistensial.

Tantangan ideologi ini semakin tajam pada generasi muda desa yang bermigrasi ke kota. Mereka menyerap ideologi baru: kompetisi bebas, materialisme, dan pragmatisme. Tanpa kesadaran kritis, proses ini menjelma menjadi asimilasi total di mana nilai lokal terkikis dan digantikan oleh logika pasar. Antonio Gramsci menyebut proses semacam ini sebagai dominasi hegemoni ideologi, ketika satu sistem nilai menundukkan sistem nilai lain secara halus, melalui pendidikan, budaya, dan simbol peradaban.

Namun tantangan ini tidak harus berujung pada pertentangan antara desa dan kota. Justru di sinilah peluang besar peradaban masa depan. Jürgen Habermas menekankan pentingnya “tindakan komunikatif” dalam membangun masyarakat: dialog antarnilai, antarkepentingan, dan antarbudaya. Desa dan kota harus dipertemukan dalam dialog ideologis, bukan dipertentangkan.

Kota membutuhkan nilai desa agar kemajuan tetap manusiawi; desa membutuhkan semangat kota agar tidak terjebak stagnasi. Peradaban yang sehat bukan yang memilih salah satunya, tetapi yang mampu mensintesiskan keduanya: kemajuan teknologi yang berpijak pada etika sosial, dan tradisi lokal yang terbuka terhadap perubahan zaman.

Pada akhirnya, pertanyaan ideologis terbesar bukanlah “di mana kita hidup”, melainkan “nilai apa yang kita hidupi”. Ketika manusia mampu membawa kebijaksanaan desa ke dalam dinamika kota, dan menghadirkan rasionalitas kota untuk memperkuat desa, maka peradaban tidak hanya tumbuh tinggi, tetapi juga tumbuh dalam, berakar kuat pada martabat dan kemanusiaan manusia itu sendiri.

 

Penulis : A Agus Kontributor

Editing   : Redaksi Trustactual.com