HALSEL, Trustactual.com — Upaya mendorong perdamaian antara masyarakat Desa Bajo Sangkuang dan Desa Paisumbaos, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), mulai mendapat ruang dari kalangan mahasiswa. Pertemuan mahasiswa dari kedua desa digelar pada Selasa malam (15/9/2026) untuk membahas pentingnya persatuan, komunikasi, dan upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung turun-temurun.
Dalam pertemuan tersebut, Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Bajo Sangkuang (IPMABS), Afrisal Siwan Siwan, menegaskan bahwa persoalan yang telah berlangsung lama tidak seharusnya terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk mengambil peran dalam membuka ruang komunikasi dan mendorong penyelesaian secara damai.
“Konflik Bajo Sangkuang dan Paisumbaos sudah menjadi persoalan yang mengakar dan berlangsung turun-temurun sampai pada generasi masa kini. Jangan sampai ego sentris dari masing-masing kubu membuat kita lupa bahwa yang sedang kita pertaruhkan adalah persaudaraan dan masa depan generasi muda,” ujar Afrisal dalam pertemuan tersebut.
Senada, Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Pasimbaos (GMP), Humaidi Ahmad, mengatakan perdamaian membutuhkan keberanian dari kedua pihak untuk membuka kembali ruang komunikasi. Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak ikut terjebak dalam kepentingan kelompok yang dapat memperpanjang persoalan.
“Kita harus berhenti melihat persoalan ini hanya dari sudut pandang kelompok masing-masing. Kalau kita terus mempertahankan ego, konflik tidak akan pernah selesai. Karena itu, mahasiswa Bajo Sangkuang dan mahasiswa Paisumbaos harus menjadi generasi yang berani membuka ruang komunikasi dan membangun kembali persaudaraan,” ujarnya.
Pertemuan tersebut juga mendorong terbentuknya wadah bersama mahasiswa Bajo Sangkuang dan Paisumbaos sebagai ruang komunikasi antargenerasi muda. Wadah itu diharapkan dapat menjadi sarana untuk menggelar dialog kepemudaan, kegiatan sosial, olahraga, kebudayaan, diskusi mahasiswa, hingga forum perdamaian yang melibatkan tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, pemerintah desa, aparat keamanan, dan pemuda.
Mahasiswa dari kedua desa menegaskan, persatuan yang didorong bukan untuk memenangkan salah satu pihak, melainkan membuka ruang bersama untuk membicarakan persoalan dan mencari jalan penyelesaian. Mereka juga berharap perdamaian tidak dipandang sebagai bentuk kekalahan, tetapi sebagai upaya mengakhiri siklus konflik agar tidak kembali diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Tidak ada pihak yang kalah ketika perdamaian tercapai. Yang menang adalah masyarakat, karena anak-anak kita nantinya tidak lagi tumbuh dengan membawa beban konflik masa lalu ataupun bentrok karena dendam,” demikian seruan dalam pertemuan tersebut.
Redaksi: Raf







Tinggalkan Balasan